Silaturahmi Alumni UPNVJ Lintas Jurusan sebagai Pra Kongres

Silaturahmi Alumni UPNVJ Lintas Jurusan di CAFE FIFO yang berlangsung dua kali adalah tonggak digagasnya perhimpunan ikatan alumni yang harus diawali dengan Kongres Alumni UPNVJ.

Keinginan Kuat Memiliki Ikatan Alumni UPNVJ

Dengan keinginan kuat dan upaya intensif untuk berhimpun dalam Ikatan Alumni, maka dimulailah pembukaan Kongres Alumni UPNVJ yang Perdana di Gedung Auditorium Fakultas Kedokteran jam 08.00 tanggal 14 Mei 2011.

Kongres Alumni UPNVJ terlaksana dengan Antusias

Masa-masa aktif dalam lembaga kemahasiswaan seperti terulang dalam bertemunya berbagai pendapat pada saat pembuatan mekanisme lembaga perhimpunan Alumni UPNVJ dalam Kongres yang pertama kali terselenggara.

Rapat-Rapat Kerja Maraton Kepengurusan IKA UPNVJ

Semuanya tidak semudah yang dibayangkan, setelah berjalanya Kongres lalu berjalanlah rapat-rapat kerja pembentukan kepengurusan yang begitu dinamis untuk menggambarkan banyaknya aspirasi yang harus diserap.

Menghadiri Undangan Wisuda, Serah Terima Alumni Baru

Tanggung jawab alumni yang paling terus bertambah tiap tahunya adalah bertambahnya kelulusan alumni baru yang siap memasuki dunia kerja, di sini peran alumni untuk mensupport berbagai informasi kebutuhan kerja diuji.

Selasa, 29 April 2014

DIBUKA PENDAFTARAN KETUA DAN SEKJEN IKATAN ALUMNI UPNVJ

FORMULIR :
PENDAFTARAN CALON KETUA DAN SEKJEN IKATAN ALUMNI UPNVJ
https://docs.google.com/forms/d/1Qq_Yz_PQuzBCeHop7r8gQESbzDLUvVm3kV3uQkbHkA4/viewform 
Silahkan untuk mengisi formulir dan mengirimkanya secara ONLINE ke google Docs kami.
Terima Kasih.

Senin, 28 April 2014

CNSS - CENTER FOR NATIONAL SECURITY STUDIES: "UNITY OF COMMAND"

 Oleh Koesnadi Kardi M.Sc, RCDS* 
Dalam rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun ke-66 TNI AU, tepatnya pada 9 April 2012, APCI (Air Power Centre of Indonesia) bersama-sama dengan PPAU (Persatuan Purnawirawan Angkatan Udara) dan CNSS (Centre for National Security Studies) yang didukung TNI AU menyelenggarakan suatu seminar air power yang khusus mengkaji organisasi angkatan udara yang unity of command.
Kegiatan seminar tersebut mengundang para pembicara dari angkatan udara Amerika Serikat, Australia, dan Singapura untuk mendapatkan beberapa masukan yang berkaitan dengan bagaimana peran angkatan udara modern di masa depan.

Sementara pembicara dari dalam negeri akan melibatkan pembicara dari kalangan akademikus (diwakili dari UI), CNSS, PPAU, dan TNI AU.
Mengapa TNI AU membahas tentang organisasi angkatan udara yang bersifat unity of command, apakah makna dari pembahasan tersebut, keuntungan apa yang diperoleh dengan organisasi yang unity of command, dan apakah rencana validasi organisasi tersebut juga mencerminkan organisasi angkatan udara sebagai independence of the air force sebagaimana organisasi angkatan udara di negara-negara lain?
“Air Power”
Sebagaimana organisasi angkatan udara di seluruh dunia, khususnya bagi organisasi angkatan udara di negara-negara maju, yang diawali dari pembentukan organisasi angkatan udara yang pertama di dunia, yaitu RAF (Royal Air Force), langsung menentukan sebagai organisasi yang mencerminkan independence of the air force.
Inggris menyadari benar akan bagaimana pentingnya organisasi angkatan udara yang bertanggung jawab untuk mengendalikan udara dalam rangka menjaga kedaulatan negara di udara.
Kemudian Amerika Serikat yang juga mendirikan angkatan udara pada 1947 berkat upaya yang gigih dari tokoh air power AS dari US Army, yaitu Brigadir Jenderal Billy Michell (penerbang Angkatan Darat AS), yang pada awalnya mendapat banyak tantangan namun kemudian dia dianggap sebagai the founder of the USAF.
Pembentukan organisasi angkatan udara di AS bukanlah tanpa tantangan, karena upaya keras Billy Michell membuatnya sampai diturunkan pangkatnya dan akhirnya dipecat dari US Army.
Namun kemudian AS mengakui upayanya benar dan memahami akan manfaat peran air power dan akhirnya dia dinobatkan sebagai pendiri angkatan udara AS atau yang lebih dikenal dengan USA.
Sebaliknya, dengan negara Indonesia, walaupun kelahiran TNI AU pada 9 April 1946 (lebih tua dari USAF), organisasi TNI AU masih belum mencerminkan independence air force.
Sejak 1965 di mana TNI AU pernah mengalami sejarah kelam pasca-G30S/1965 karena tragedi politik, pemerintah pada saat itu membentuk organisasi TNI yang solid dengan kebersamaan integritas yang berlangsung sampai saat ini.
Walaupun kita menyadari perkembangan air power adalah seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, karena “air power merupakan product of tehnology”, perkembangan organisasi TNI AU sampai saat ini masih belum mencerminkan organisasi yang dikenal dengan sebutan independence of the air force karena masih bercermin pada upaya kebersamaan integritas yang tinggi.
Karena itu, perkembangannya sampai saat ini, organisasi TNI AU masih belum mencerminkan unity of command. Akibatnya, peran yang harus dilakukan juga belum bisa berkembang sesuai dengan tugas pokok yang harus diemban dan sifat-sifat air power juga belum terkomodasi terhadap sifat inti air power, yaitu high, speed, and, range (ketinggian, kecepatan, dan jarak jangkau).
Untuk itu TNI AU sangat berharap tanpa melepaskan diri dari soliditas integritas yang tinggi terhadap angkatan lain, peran air power harus pula muncul pada rencana validasi organisasi TNI AU di masa depan.
Terbang Tinggi dan Jauh
Air power memiliki kekhasan yang ternyata berbeda apabila dibandingkan, baik dengan land power maupun maritime power. Kekhasan air power tersebut, pertama karena mampu terbang tinggi yang tidak dimiliki baik oleh land power maupun maritime power.
Kedua, mampu terbang dengan kecepatan tinggi, bahkan mampu melebihi kecepatan suara. Ketiga, mampu terbang dengan jarak yang sangat jauh (karena selain mampu terbang dengan cepat juga muatan bahan bakarnya bisa ditambah).
Dari ketiga kekhasan inti tersebut akan berdampak pada kemampuan, yaitu (1) control of the air, (2) precision strike, (3) precision engagement, (4) rapid force projection, dan (5) information exploitation.
Dari kelima kekuatan inti tersebut, kekuatan yang pertamalah yang akan dibahas pada seminar air power pada Selasa (10/4) di Executive Club, Persada, di Halim Perdanakusuma. Tema seminar air power tersebut adalah “Roles, Command, and Control of the Air Force in Modern and Irregular War”.
Para pembicara dari Singapura, Col Lim Tuang Liang, Head of Plans RSAF, menyampaikan topik “Strategies for full Spectrum Air Operations”, pembicara dari APDC (Air Power Development Centre), Australia, Dr Sanu Kainikara menyampaikan topik tentang “Air Power in Irregular War”, dan pembicara dari AS, Mr Mike McSpadden, Chief F-16 Engineer, menyampaikan topiknya tentang “The Refurbished RDAF F-16s for TNI AU”.
Inti dari sesi pertama ini para peserta seminar diberikan gambaran tentang bagaimana strategi dari air power yang memiliki kekhasan sehingga mampu melaksanakan semua spektrum operasi udara, bahkan mampu melaksanakan perang secara tidak reguler.
Pada sesi kedua, ada empat pembicara dari dalam negeri, yaitu (1) Dr Andi Widjajanto mewakili kalangan akademikus, (2) Dr Kusnanto Anggoro dari CNSS, (3) Marsdya TNI (Purn) Wrensiwiro dari PPAU, dan (4) Marsma TNI Simamora dari TNI AU.
Topik pada sesi kedua ini khusus membahas potensi yang akan mengancam wilayah kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia sehingga diperlukan peran khusus dari air power.
Untuk itu diperlukan suatu organisasi yang bersifat unity of command, untuk bisa diterapkan bagi organisasi TNI AU yang sesuai dengan makna UU No 3/2002 tentang pertahanan negara dan UU No 34/2004 tentang TNI.
Hasil kajian dari rencana validasi organisasi TNI AU tersebut termasuk organisasi Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) yang selama ini berada pada garis komandonya Panglima TNI (bukan pada garis komandonya Kasau).
Hal ini termasuk organisasi yang bukan mencerminkan unity of command yang diharapkan di masa depan. Pembahasan seminar air power kali ini dimaksudkan sebagai upaya agar TNI AU di masa depan mampu mewujudkan organisasi yang mencerminkan “the first class air force”.
Dengan demikian, peran air power yang dimiliki TNI AU diharapkan mampu memunculkan kekhasannya dan di kemudian hari juga mampu meningkatkan kemampuan information exploitation (air recconaisance, air surveillance, dan air intelligence).
Dengan demikian TNI AU di masa depan akan mampu mengakomodasikan hukum udara dan ruang angkasa yang sampai sekarang dinilai masih sangat lemah. Selain itu diharapkan peran TNI AU dalam menjaga kedaulatan negara akan dapat diwujudkan secara optimum untuk dapat memiliki detterence power yang andal. Bravo TNI AU dan semoga TNI AU tetap jaya di udara. (Sumber: Sinar Harapan , 9 April 2012).

KEPALA STAF ANGKATAN UDARA (KASAU) RAIH GELAR MASTER DI UPN "VETERAN" JAKARTA

LANUD HALIM PERDANAKUSUMA (17/4),- Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, MM, CDSS., menjadi salah satu wisudawan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jakarta dengan meraih Gelar Master, di gedung SMESCO, Rabu (16/4).

Tesis dengan judul "Peran Seleksi Dalam  Menyiapkan SDM Pertahanan Yang Profesional (Studi Kualitatif Lulusan Akademi Angkatan Udara)," menghantarkan Kasau meraih gelar Master dalam Ilmu Manajemen Pertahanan.

Kasau mendeskripsikan dalam tesisnya bahwa rekrutmen dan seleksi Karbol AAU merupakan salah satu fungsi pembinaan personil (SDM) TNI AU yang mempunyai peran sangat strategis dalam mempersiapkan dan menyediakan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan organisasi TNI AU.

Disamping itu kegiatan rekrutmen dan seleksi Karbol AAU didahului dengan kegiatan perencanaan sumber daya manusia berupa penentuan rencana kebutuhan SDM Perwira  TNI AU, khususnya Perwira lulusan AAU. Hal ini berarti bahwa kegiatan rekrutmen dan seleksi Karbol AAU sudah didasarkan pada rencana  kebutuhan SDM TNI AU.

Turut menjadi Wisudawan Mayjen TNI Pandu Wibowo, S.E (Pangdam I/Iskandar Muda), Laksdya TNI (Purn) M. Jurianto, S.E (Rektor Universitas Hang Tuah) Surabaya, Marsma TNI Deri Pemba Syafar (Staf Khusus Kasau), dan Brigjen TNI Ryanto Edyono (Dirdik Sesko TNI).

Wisuda ke-52 Tahun Akademik 2013/2014 UPN "Veteran" Jakarta meluluskan 652 wisudawan terdiri dari: Program D-III 7 (tujuh) orang, Program S-1 444 orang, Program Profesi Dokter 101 orang, dan Program Pasca Sarjana 100 orang.

Lulus terbaik dengan nilai IPK tertinggi diraih Bondhan Dewayani dengan IPK 3,97 dari Progdi S-1 Akutansi Fakultas Ekonomi, dan S-2 predikat IPK tertinggi diraih Anjariah Dwi Astuti, SE., dengan IPK 3,97 dari Progdi S-2 Magister Manajemen, serta sebagai Wisudawan Termuda diraih Nabila Ery Carrera dengan IPK 3,64 Progdi S-1 Akutansi Fakultas Ekonomi yang saat ini berusia 19 tahun 8 bulan.

SELAMAT DAN SUKSES KEPADA

WISUDAWAN/TI UPN “VETERAN” JAKARTA

UPN  “Veteran” Jakarta pada tanggal 16 April 2014 melaksanakan Wisuda Ke – 52, Ahli Madya, Sarjana, Dokter dan Magister periode semester ganjil tahun akademik 2013/2014  bertempat di Gedung SMESCO Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan.


Pada periode wisuda ke-52 ini, UPN “Veteran” Jakarta berhasil meluluskan mahasiswa sebanyak 652 orang yang terdiri dari : 7 orang lulusan Ahli Madya, 444 orang lulusan Sarjana, 101 orang lulusan Profesi Dokter dan 100 orang lulusan Magister. 

Dari 652 orang lulusan periode ini, 17 orang diantaranya  lulusan terbaik yaitu lulusan yang memperoleh nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi dan masa studi lebih cepat dibandingkan lulusan lainnya.

SOSIALISASI DAN UNDANGAN PRA KONGRES DAN KONGRES ALUMNI UPNVJ 2014

PRA KONGRES IKATAN ALUMNI UPNVJ akan dilaksanakan pada Hari/Tanggal : Sabtu – Minggu / 3-4 Mei 2014, Tempat : WISMA TNI-AU MULYASARI – CISARUA BOGOR, Jalan Raya Puncak km.80 Bogor Jawa Barat 16750. Perwakilan : 2 (dua) Wakil per Alumni Jurusan, dengan Agenda :
  • Konsolidasi Majelis Alumni UPNVJ untuk menyelenggarakan Kongres Alumni UPNVJ.
  • Pleno Materi Kongres yaitu Anggaran Dasar (AD), Garis Besar Haluan Program (GBHP) dan Penetapan Komisi Pemilihan Ketua Ikatan Alumni dan Sekretaris Jenderal (Sekjen).
  • Penelitian Khusus (Litsus) Calon Ketua dan Sekjen Ikatan Alumni UPNVJ.
KONGRES IKATAN ALUMNI UPNVJ akan dilaksanakan pada Hari/Tanggal : Sabtu – Minggu / 10-11 Mei 2014, Tempat : BUPERTA CIBUBUR JAKARTA TIMUR, Telp. +62 21 844 4948, +62 21 844 5449, +62 21 844 5850. Perwakilan : 3 (tiga) Wakil per Alumni Jurusan, dengan Agenda :
  • Paripurna Materi Kongres yaitu Anggaran Dasar (AD), Garis Besar Haluan Program (GBHP) dan Penetapan Komisi Pemilihan Ketua Ikatan Alumni dan Sekretaris Jenderal (Sekjen).
  • Laporan Pertanggungjawaban Kepengurusan IKA UPNVJ tahun 2011-2014.
  • Pemilihan Ketua dan Sekjen Ikatan Alumni UPNVJ.
UNTUK PENDAFTARAN UTUSAN PERWAKILAN JURUSAN :
  • DODI ILHAM (0852 1596 9911)
  • FAJAR BASUKI (0813 1118 6232)

SOURCE : SOSIALISASI DAN UNDANGAN PRA KONGRES DAN KONGRES

Rabu, 09 April 2014

Krisis Ukraina, Sadarkan Indonesia Pentingnya Kesadaran dan Wawasan Geopolitik



Di akhir tahun 2010 dan kemudian memasuki tahun 2011 tepatnya di masa-masa awal pembentukan Ikatan alumni UPNVJ, saya dengan beberapa kawan alumni di antaranya Fauzi Abdillah, Dodi Ilham dan Muhammad Syahreza, pernah membicarakan tentang aplikasi Global Furute International, yaitu aplikasi untuk mengumpulkan data trend kawasan untuk membuat data trend keamanan kawasan dan global di masa yang akan datang, yang akan diperkenalkan melalui Seminar Internasional yang berharap dapat diprakarsai oleh ALumni UPNVJ. Namun karena berbagai keterbatasan kondisi, utamanya adalah kesibukan para alumni maka harapan itu belum bisa terwujud.

Maksud dari rencana di atas adalah untuk mengkontribusikan kepada bangsa dan negara bahwa betapa pentingnya kesadaran wawasan geopolitik yang sementara ini masih menjadi pemahaman di kalangan tertentu saja, untuk kemudian rencananya mencoba untuk memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia melalui Seminar Internasional tersebut. Tinjauan dari pihak UPN Veteran Jakarta dan Alumninya tentu adalah tinjauan kampus hijau yang menjadi bagian untuk berperan serta dengan kontribusinya sebagai IKON kampus pertahanan di negeri tercinta ini.

Hingga akhirnya sebuah lembaga yang bernama Global Future Institute akhir-akhir ini sedang gencar mengkampanyekan wawasan global berkait dengan stabilitas kawasan utamanya di idang politik dan ekonomi. Global Future Institute (GFI) telah meluncurkan edisi kelima jurnal berkalanya, The Global Review Quarterly dengan mengangkat tema: Gagalnya Revolusi Warna di Ukraina. Yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi terbatas yang diikuti oleh beberapa elemen strategis baik dari jajaran birokrasi pemerintahan, perguruan tinggi, organisasi massa, kamar dagang dan industri (KADIN), maupun dari kalangan mahasiswa.

Dalam kata pengantar diskusi, Direktur Eksekutif GFI Hendrajit menggarisbawahi dua hal penting. Pertama, Indonesia sebagai bagian integral dari berbagai elemen strategis bangsa, mutlak perlu menyimak dan mengkaji berbagai faktor dan dinamika politik yang berkembang, seperti kondisi di Ukraina.

Kedua, dengan menarik hikmah dan pelajaran dari kasus Ukraina, khususnya dengan tumbangnya Presiden Viktor Yanukovich sebagai akibat dari konspirasi antara AS-Uni Eropa dan partai-partai oposisi di Ukraina, maka betapa pentingnya bagi suatu negara untuk memahami dan mengenali nilai strategis wilayah geopolitiknya. Sebab jika tidak, lanjut Hendrajit, maka sejatinya kita sedang membuka pintu yang seluasnya kepada berbagai kepentingan asing, untuk membangun dan menanamkan lingkup pengaruhnya di bumi nusantara.

Pandangan Hendrajit dengan serta merta diperkuat oleh Dr Santos Winarso Dwiyogo, Kepala Divisi Hubungan Bilateral Hubungan Internasional Kantor Sekretariat Wakil Presiden RI, yang diundang secara khusus oleh GFI sebagai pembicara. Menurut Dr Santos, sebagai bukti betapa pentingnya sebuah negara memahami nilai strategis wilayah geopolitiknya, hal itu telah dibuktikan secara nyata oleh Rusia, dalam mengantisipasi campur tangan AS dan Uni Eropa dalam penggulingan Presiden Yanukovich.

“Kalau dulu teori-teori geopolitik yang bertumpu pada McKinder, Alfred Mahan dan Nickolas Spike dimanfaatkan oleh Amerika dan Inggris untuk mengepung Rusia dan melemahkan Jerman yang ketika itu merupakan musuh dari AS dan Inggris, maka sekarang justru sebaliknya. Rusia lah yang justru memanfaatkan teori-teori geopolitik para pakar tersebut untuk memperkuat kepentingan strategis negara beruang merah tersebut.”

Dengan kata lain Dr Santos hendak menegaskan bahwa teori-teori geopolitik Mckinder dan Mahan yang menekankan betapa pentingnya menguasai Heartland (Timur Tengah dan Asia Tengah) agar bisa menguasai dunia, sekarang Rusia telah menerapkan teori geopolitik tersebut untuk membendung pengaruh AS dan Uni Eropa di kedua kawasan tersebut.

Kita lihat bagaimana Rusia dan Cina, sejak 2001 lalu, membuat persekutuan strategis Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang pada hakekatnya ditujukan untuk membendung pengaruh AS di kawasan Asia Tengah.

Nampaknya, pentingnya membangun kesadaran dan wawasan geopolitik, isu utama yang mencuat dalam forum diskusi tersebut. Entjeng Shobirin, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bahkan memandang kasus Ukraina ini agar menjadi bahan pelajaran berharga bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia.

“Menurut saya dengan mengkaji dan mendalami kasus Ukraina, pemerintah dan berbagai elemen masyarakat Indonesia sudah saatnya menyadari betapa pentingnya memperjelas orientasi kebijakan politik luar negeri RI yang bebas dan aktif, sehingga kejelasan politik luar negeri yang bertumpu pada kesadaran dan wawasan geopolitik kita, pada perkembangannya akan memperjelas peta permasalahan yang dihadapi oleh kita sebagai bangsa baik kini maupun kelak,” begitu ungkap Shobirin.

Senada dengan GFI, Entjeng Shobirin secara khusus menaruh keprihatinan besar terhadap lemahnya kewaspadaan nasional dari beberapa institusi kenegaraan kita. Maka terkait dengan tema bahasan yang digelar oleh GFI, Shobirin menyarankan agar dalam kajian-kajian GFI mendatang, untuk mengangkat sebuah tema yang cukup strategis: SKENARIO DISINTEGRASI NASIONAL.

Dr Wirawan, anggota Komite Rusia di Kamar Dagang dan Industri (KADIN), menggarisbawahi tiga hal penting.

Pertama, bersepakat dengan pandangan pada forum diskusi bahwa kemampuan Rusia dalam menghadapi dan menyikapi perkembangan di Ukraina pasca kejatuhan Yanukovich dengan menggerakkan pasukannya ke Crimea, telah mempertunjukkan kepada dunia internasional betapa Rusia sangat memahami dan mengenali kekuatan wilayah geopolitiknya maupun tujuan-tujuan tersembunyi dari negara-negara rivalnya seperti AS dan Uni Eropa, untuk menguasai dan membangun lingkup pengaruhnya di Ukraina.

Keputusan Presiden Vladimir Putin untuk menguasai Crimea yang wilayahnya berada dalam kedaulatan Ukraina, membuktikan kemampuan Rusia membaca dan mengenali nilai strategis wilayah geopolitik Crimea terkait kepentingan strategis Rusia dalam melawan skenario pengepungan AS dan Uni Eropa melalui Ukraina. Itulah sebabnya Skenario Revolusi Warna yang coba dimainkan dengan mendukung partai-partai oposisi menggulingkan Yanukovich, pada akhirnya justru jadi titik balik bagi Amerika di Ukraina. Semula sepertinya akan menang, ternyata akhirnya akan menuai kekalahan.

Kedua, Wirawan mendesak pemerintah Indonesia agar menjalin hubungan yang lebih erat dengan Rusia. Karena menurut Wirawan, berdasarkan berbagai informasi yang dia serap ketika berkomunikasi dengan berbagai elemen strategis Rusia, saat ini Rusia memandang Indonesia sebagai negara sahabat. Bahkan setingkat lebih tinggi dari sekadar sahabat. Jadi menurut Wirawan, yang saat ini juga aktif sebagai salah satu pengurus Persatuan Putra-Putri Purnawirawan Angkatan Udara (P3AU), inilah momentum bagi Indonesia dan Rusia untuk menjalin hubungan yang semakin erat di semua bidang.

Aspek ketiga yang digulirkan oleh Wirawan adalah soal Papua. Belajar dari kasus Ukraina, pemerintah Indonesia sebaiknya memperhatikan betula soal Papua. Karena gerakan untuk meng-internasionalisasi Papua di forum-forum internasional, semakin gencar dilakukan.

Pentingnya Indonesia mewaspadai perkembangan di Papua, juga didukung oleh Entjeng Shobirin. Karena menurut Entjeng, Gerakan Papua Raya yang semakin gencar dikumandangkan oleh elemen-elemen OPM(Organisasi Papua Merdeka), pada perkembangannya bisa menginspirasi Gerakan Separatis Dayak di Kalimantan Barat.

Informasi lapangan yang disampaikan Entjeng Shobirin nampaknya seiring dengan gagasan yang dia lontarkan sebelumnya agar GFI mengangkat tema SKENARIO DISINTEGRASI NASIONAL dalam kajian-kajian khususnya ke depan, baik melalui jurnal berkala maupun di situs the global review.

Karena itu Shobirin menyarankan agar melalui GFI, pemerintah Indonesia perlu didesak agar memperjelas arah dan orientasi kebijakan luar negerinya karena dengan begitu kepentingan nasional RI bisa terpetakan dengan jelas, sehingga kepentingan nasional menjadi konkrit di mata masyarakat.

Usmar Ismail, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Dr Mustopo Beragama, merasa perlu mengingatkan forum diskusi bahwa perkembangan yang terjadi di Ukraina sangat menggelisahkan bagi kita di Indonesia. Karena itu Usmar mengingatkan agar Rekomendasi Rand Corporation yang pernah diajukan kepada mantan Presiden Bill Clinton pada 1998 agar Indonesia dibagi jadi 7 bagian, harus tetap menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan nasional (stakeholders) politik dan keamanan nasional Indonesia, untuk memperkuat kewaspadaaan nasional Indonesia.

Seruan Entjeng Shobirin dibenarkan oleh Kepala Sub-Direktorat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Kementerian Dalam Negeri Bachtiar, yang merasa perlu menegaskan bahwa masih banyak aparat-aparat birokrasi pemerintahan yang menaruh perhatian besar dalam pengembangan kesadaran dan wawasan geopolitik. Dan Kementerian Dalam Negeri khususnya KESBANGPOL, terbuka untuk ikut serta dalam program penguatan kesadaran geopolitik tersebut. Dan dalam hal ini, mengapresiasi langkah-langkah yang sudah dirintis oleh teman-teman yang tergabung dalam GFI.

Menanggapi Entjeng, Wirawan dan Bachtiar, Dr Santos mengajukan beberapa usulan menarik. terkait Gerakan Sadar Geopolitik. Antara lain dengan:
  1. Membuat Geopolitik Media untuk menginformasikan apa dan bagaimana Indonesia.
  2. Reorientasi Kebijakan Pertahanan/Keamanan yang bertumpu pada Takdir Geopolitik Kita yang berbasis Maritim/Kelautan.
  3. Perlunya Penguataan Indoensian Overseas (Sebagai komunitas intelijen Indonesia di luar negeri).
  4. Menaruh perhatian khusus pada Laut Cina Selatan sebagai Titik Pusat Konflik Global.
  5. Reorientasi Kebijakan Pangan dan Energi.
  6. Penguatan Fungsi Birokrasi
  7. Penguatan Pendidikan Tinggi dan Studi Sejarah Indonesia
  8. Penguatan Otonomi atas dasar Pemberdayaan Lokal.
  9. Penyelesaian Papua secara tuntas dan Mendasaar.
  10. Penguatan Kurikulum Pendidikan
  11. Peningkatan Kapasitas Industri Strategis.
Para Peserta Forum Diskusi Terbatas GFI:
  1. Dr Santos Winarso Dwiyogo. Kantor Wakil Presiden RI.
  2. Bachtiar, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri.
  3. Entjeng Shobirin, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
  4. Wirawan, Komite Rusia Kamar Dagang dan Industri (KADIN).
  5. Usmar Ismail, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Dr Mustopo Bergama
  6. Benny Iqbal, Peneliti Senior Forum Dialog Nusantara.
  7. Igor Dirgantara, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Universitas Jayabaya.
  8. Prima MA, Direktur Eksekutif Center for Energy dan Strategic Research Indonesia (CESRI).
  9. Rahmad, Yayasan ABI.
  10. Teguh Esha, Novelis dan Pegiat Seni-Budaya.
  11. Mohamad Kusairi, Pemimpin Redaksi Majalah Energi Indopetro.
  12. Santoso, Mahasiswa Universitas Bung Karno.
  13. Ridwan, Mahasiswa Universitas Mustopo
  14. Teuku Wildan, Universitas Mustopo.
  15. Mega Prativi, Mahasiswi Universitas Mustopo.
  16. Hafdal Syahputra, Mahasiswa Universitas Mustopo.
  17. Malinda D, Mahasiswi Universitas Indonesia dan Pengurus Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS).
  18. Claudia RA, Mahasiswi Universitas Indonesia dan ISAFIS.
  19. Dewi Larasati, Universitas Indonesia dan ISAFIS.
  20. Hernizar Rahman, Mahasiswa Universitas Indonesia dan ISAFIS.
  21. Zidny Ilman, Mahasiswa Universitas Indonesia dan ISAFIS.
  22. Amang, Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK)
  23. Rusman Rusli, Direktur Korporasi GFI.
  24. Ferdiansyah Ali, Direktur Program GFI.
  25. Hari Samputra Agus, Anggota Dewan Pendiri GFI.
Penulis : Tim Redaksi The Global Review plus