Selasa, 25 Februari 2014

Pejuang Muda Itu Bernama Pak Cik



Berjuang ! Sebuah tindakan yang kita butuhkan untuk mencapai masyarakat yang lebih baik! itulah slogan dari Sayed Junidi Rizaldi dari salah satu blognya sebagai media komunikasinya, untuk menyampaikan apa yang sedang dikerjakannya untuk PERUBAHAAN!.

Terlahir dari keluarga yang sederhana dari ayahnda yang bernama Sayed Abdul Rachman bin Sayed Usman dan ibunda yang bernama Syarifah Rodiah binti Tengku Sayed Umar yang mempunyai jiwa yang luar biasa, dilahirkan di Dumai pada hari Kamis, 19 Desember 1974, bintang Sagitarius, Shio Macan. Menikah dengan Rr. Setyowati dan mempunyai 2 orang anak, anak pertama Sayed Aqbil Ruhullya Muntazhar , yang kedua Syarifah Risya Dara Saqueena.

Sayed Junaidi Rizaldi di UPN Veteran Jakarta masuk pada angkatan 1993 di Akademi Tekhnik Veteran Jakarta (ATEVET), lalu pada tahun yang sama juga masuk ke dalam aktifis jurnalis mahasiswa di Lembaga Penerbitan Majalah (LPM) Aspirasi. Jiwa petualanganya, membawa Sayed yang kemudian akrab dengan panggilan Pak Cik ini menjadi Aktifis Pecinta Alam Wanadri yang terkenal sebagai pencetak mental-mental ulung para anggotanya yang survive dan eksis serta tidak sedikit yang kemudian menjadi Tokoh Nasional. Sangat mungkin ke depannya, Pak Cik semoga juga menjadi salah satu tokoh nasional yang benar-benar mampu membuat PERUBAHAN yang baik dan maju pada masyarakat yang dipimpinya.

Pak Cik juga memiliki jiwa seni, terbukti di debut awalnya sebagai mahasiswa di UPN Veteran Jakarta, bahu membahu dengan cikal bakal pekerja seni lainya di almamater turut membidangi berdirinya Teater Hijau Lima Satu (THLS). Dan ciri dari jiwa seninya, Pak Cik banyak menggubah puisi-puisi yang bernada patriotik sesuai dengan panggilan jiwanya sebagai Agen Perubahan. Inilah yang kemudian mengilhami aktifitasnya sebagai Aktifis Mahasiswa yang berkarakter kuat untuk merancang dan menyusun pergerakan dari satu noktah menjadi bola salju yang kemudian berperan besar bersama gerbong aktifis pergerakan mahasiswa dari UPN Veteran Jakarta mewarnai Gerakan Reformasi 1998.

Keuletanya menjalin hubungan dan menset-up ide pergerakan mahasiswa mulai terlihat di tahun 1996 ketika diskusi-diskusi pergerakan mahasiswa dalam rangka menyikapi perkembangan demokratisasi yang dikuatirkan akan mengalami musibah kehancuran, ketika kekuasaan nasional saat itu sudah dikuasai selama 30 tahun atau 5 Pelita oleh presiden pada saat itu yaitu H. M Suharto. Diskusi-diskusi inspiratif yang membangun pemikiran progresif terus dikembangkan dari diskusi-diskusi di tingkat internal kampus sampai ke luar kampus bahkan ke institusi-institusi pergerakan yang memiliki visi yang sama untuk perubahan yang lebih baik.

Komunikasi dengan lembaga formal kemahasiswaan di kampus pada saat itu yaitu dengan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) terus dijaga dan dikembangkan oleh Pak Cik dalam rangaka menyebarluaskan wawasan pergerakan yang pada akhirnya didedikasikan sebagai motor penggerak perubahan dari almamater UPN Veteran Jakarta tercinta yang berperan besar dalam Reformasi 1998. Bahkan jika ditelaah dengan seksama dengan analisa yang mendalam, bahwa gerbong utama pergerakan mahasiswa secara praktis dan taktis, dalam langkah-langkah yang tartil menuju Pergerakan Reformasi 1998 sebenarnya justru dimulai dari UPN Veteran Jakarta Pondok Labu.

Aktifitas pergerakan Pak Cik di luar kampus pada awal tahun 1997 bersama dengan sahabat karibnya semasa itu yaitu Dodi Ilham (Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN dan Aktifis UKM Karate), awalnya bahu membahu menggalang kekuatan pergerakan di Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) di mana keduanya menjadi ikon dan rujukan bagi kawan-kawan pergerakan mahasiswa dari kampus-kampus lain. Sampai pada suatu titik pergerakan FKSMJ dikategorikan membahayakan pemerintah dan kekuasaan pada saat itu sehingga FKSMJ mendapatkan pencekalan dan penangkapan para aktifisnya, karena pada saat yang sama demonstrasi melawan kebijakan-kebijakan pemerintah sudah berkobar masif dari kampus ke kampus. Hingga rumah kontrakan para aktifis pun menjadi sasaran penggeledahan, namun dengan maintain informasi yang solid dari organ pergerakan yang efektif, tidak ada aktifis dari UPN Veteran Jakarta yang tertangkap di sekitar kampus UPN dan dari rumah kontrakan aktifis yang digeledah aparat.

Pada saat FKSMJ dicekal dan para aktifisnya sebagian ditangkap, komunikasi intensif dengan organ pergerakan lain yang pada saat itu dikenal cukup radikal yaitu Forum Kota (FORKOT) tetap terjalin, sehingga di masa fakum FKSMJ akibat pencekalan dan penangkapan, yang mengambil alih peran aksi-aksi di jalanan adalah FORKOT yang mengadakan aksi demonstrasi semakin menggila dengan prinsip yang Non Kooperasi. Pemerintah pada saat itu menilai bahwa justru FKSMJ lah yang relative bisa diajak berunding dan bisa berkomunikasi dengan Fforum Kota, sehingga tindakan pencekalan kemudian direlease dan aktifis FKSMJ yang ditahan mulai dilepaskan.

Pak Cik yang terus menggalang akar rumput pergerakan mahasiswa untuk memprotes aksi kekerasan dari pemerintah terhadap aksi demo mahasiswa terlihat semakin sibuk dengan aktifitas FKSMJ yang mulai menjadi inti pergerakan reformasi nasional. Organ pergerakan di kampus (almamater) ditata dengan sangat rapi, sehingga komunikasi formal pada saat itu dilakukan oleh Ketua Senat Mahasiswa UPN Veteran Jakarta yaitu Sdr. Popon Lingga Geni yang memiliki SDM aktifis-aktifis hebat di Kampus Hijau yang bersama-sama Pak Cik dan team pergerakan mampu mengajak para aktifis senior untuk turun gunung, oleh karena isu sentral sudah sangat memanas di media baik cetak maupun elektronik. Isu meminta presiden H.M Suharto mundur tidak terelakan lagi menjadi bola salju yang terus menggelinding dengan derasnya, dan melibas apa saja yang menghalangi.
Di sisi lain, komunikasi politik dari agen pergerakan mahasiswa dengan penguasa dan tokoh nasional benar-benar sudah sangat intensif dan agresif sebagai bagian dari konstelasi politik nasional dengan jargon Reformasi dan Penurunan Presiden. Bahwa kemudian terjadi pertemuan kesamaan gagasan dengan tokoh-tokoh reformasi, adalah diyakini sebagai hasil baik dari bola salju pergerakan mahasiswa yang intensif dan konsisten mempertemukan pemikiran-pemikiran dan langkah aktual untuk memblow –up isu nasional untuk perubahan yang diinginkan rakyat, dan di situ ada peran besar Pak Cik bersama Popon Lingga Geni dan Dodi Ilham serta organ pergerakan kampus UPN lainya yang peranya juga sangat signifikan.

Sampailah pada kulminasi pergerakan reformasi yaitu Presiden Suharto mengundurkan diri dari jabatan presiden dan digantikan oleh wakilnya yaitu BJ. Habibie, namun tentu pergolakan politik belum mereda, malah semakin memanas. Pergantian kepemimpinan menjadi babak baru penyelesaian berbagai masalah, yang tentu masih membutuhkan dukungan idealisme mahasiswa untuk ikut menyelesaikan berbagai persoalan sebagai agenda yang harus dituntaskan. Ketidak puasan ada di mana-mana oleh karena  posisi birokrasi yang tidak pas ketika Presiden Habibie menjabat dan mengambil berbagai kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap rakyat. Pak Cik dengan FKSMJ dan organ pergerakan di kampus-kampus yang mendukungnya terus bergerak, tiada hari tanpa demonstrasi. Namun seiring waktu berjalan, dengan itikad baik dari para tokoh politik nasional yang didukung mahasiswa dan rakyat, berangsur-angsur kondisi stabil setelah representasi suara rakyat masuk dalam pemilu dan juga menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang berusaha mengaktualisasikan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik dan demokratis.

Betapapun pada saat ini sudah terjadi perbaikan di berbagai kelembagaan pemerintahan dan parlemen bukan semata menjadi buah perjuangan yang harus dinikmati, karena sejatinya perjuangan itu tidak pernah akan berhenti. Maka peran serta dalam rangka kontribusi riil anak bangsa dalam berperan serta membangun bangsanya, Pak Cik mendedikasikan langkah politiknya bergabung dengan Partai HANURA, sebagai kanal aspirasinya dalam intra parlemen. Kepercayaan yang didapat dari masyarakat adalah dengan menghantarkanya sebagai Ketua DPD Partai Hanura dari Propinsi Riau dari tahun 2009. Dan hajat besar yang sedang dibangunnya sekarang ini adalah ikut maju dalam Pencalonan sebagai Gubernur Riau, ini adalah langkah progresif dari perwakilan aktifis pergerakan dan reformasi 98 yang beritikad masuk dalam pemerintahan propinsi yang tentu sudah dilengkapi dengan kesiapan agenda dan ide-ide membangun untuk masyarakat Propinsi Riau. Dan kita sebagai bagian dari Almamater UPN Veteran Jakarta seyogyanya ikut mengapresiasi dan mendorong agar perjuangan Pak Cik selelu menemui titik keberhasilan untuk menggapai keberhasilan yang lainya.

Di beberapa tahun terakhir, Pak Cik juga sudah menyelesaiakn S-2 di Bidang Politik di Universitas Indonesia, semoga ini melengkapi kemampuan intelekturl politiknya dalam rangka mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan Negara. Amin Ya Robb al’alamin. (bhd/-red).

0 komentar:

Posting Komentar